Makam Sunan Ampel, Wisata Religi Yang Tak Pernah Sepi Peziarah

Foto : Net

JAKARTA – Berziarah ke makam tokoh-tokoh besar menjadi sebuah tradisi yang sudah melekat lama di kalangan masyarakat Indonesia. Mereka yang datang biasanya melantunkan doa-doa kepada mereka yang telah meninggal sembari mengenang perjuangan yang telah dilakukan selama hidupnya.

Salah satunya di makam Sunan Ampel yang berada di Kelurahan Ampel, Semampir, Surabaya, tepatnya di belakang Masjid Sunan Ampel. Lokasi ini tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Sunan Ampel atau yang bernama Ahmad Rahmatullah merupakan salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-15.

Melihat begitu besar jasanya terhadap Islam di Indonesia, peziarah selalu membanjiri kawasan makam Sunan Ampel. Apalagi disaat hari-hari besar agama Islam, seperti sepanjang bulan Ramadan.

Saat menuju pusara, pengunjung akan melewati sejumlah gapura yang memiliki ornamen dan ukuran yang berbeda-beda. Gapura-gapura ini juga dijuluki sebagai “gapuro limo” atau lima gapura.

Pemaknaan gapura ini adalah sebagai simbol rukun Islam. Setiap gapura memiliki namanya masing-masing. Mulai dari Gapuro Munggah (naik), Gapuro Poso (puasa), Gapuro Mengadep (menghadap), Gapuro Ngamal (zakat) dan Gapuro Peneksen (penyaksian).

Selama berada di kawasan pemakanan itu, peziarah diwajibkan menjaga sikap dan dilarang memotret makam sang Wali. Makam Sunan Ampel bersebelahan dengan makam istrinya, Dewi Condrowati atau yang lebih dikenal sebagai Nyai Ageng Manila.

Masjid Sunan Ampel

Setelah berziarah ke makam Sunan Ampel, pengunjung bisa datang ke Masjid Sunan Ampel. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel pada tahun 1396. Namun ada juga yang menyebut jika masjid itu mulai dibangun pada tahun 1421.

Masjid ini dibangun di sebuah bidang tanah dengan luas 120 x 180 meter dengan arsitektur yang unik. Memadukan gaya Jawa kuno dengan gaya Arab, serta dipengaruhi dengan corak budaya Hindu Buddha. Hampir seluruh bangunan masjid dibuat menggunakan kayu jati.

Kampung Arab

Selain makam dan masjidnya, ada sebuah kampung Arab yang lokasinya tidak jauh dari kawasan makam Sunan Ampel. Kampung Arab ini terkenal karena memang dihuni oleh keturunan Arab asli yang sebagian dari mereka berprofesi sebagai pedagang pernak-pernik muslim.

Orang-orang Arab di sini konon telah ada sejak tahun 1451. Mereka datang dengan tujuan berdagang sekaligus mencari tahu tentang keberadaan seorang wali yang ada di sini. Pada akhirnya mereka menetap dan keturunan-keturunannya bertahan hingga saat ini.

Tak hanya menjual pernak-pernik muslim seperti peci, gamis, hijab, gelang, di antara mereka juga menjajakan berbagai kuliner khas Timur Tengah, seperti kurma, roti Maryam hingga air zam-zam.

Wisata ziarah Sunan Ampel ternyata tidak hanya didatangi oleh wisatawan lokal, namun banyak wisatawan asing yang berkunjung ke tempat tersebut. Melansir dari website bappeko.surabaya.go.id, wisatawan asing yang kerap mengunjungi tempat peziarah itu mulai dari Jepang, Korea, Selandia Baru, Polandia, Yunani, Jerman, China, Francis, Belanda, Italia, Malaysia, Saudi Arabia, Brunei Darussalam, Filipina dan masih banyak lagi.

(validnews.id/MMO)